Misbah's Blog

Kehidupan Penuh Dengan Cerita

PRINSIP!!

HORRAAAAY!! AKU SENAAANG!! Akhirnya masuk kuliah lagi setelah liburan sebulan.. rasanya pengen teriak dah, hahaha 😀

“Lho kok senang?? Biasanya orang-orang kalau liburan sudah selesai malah sedih, ini kok malah senang ya??”

“Hehehe, enggak tahu dah kenapa.. udah diem lu akh..”

LANJUT!

Selama sebulan liburan ada banyak sekali cerita seru yang saya alami, walaupun liburan, sebenarnya saya tidak murni liburan..

Kenapa hayo?? Ada yang tahu tidak??
Tidak tahu ya?? Saya juga tidak tahu tuh,. Hehehe..

Hmm…. Enaknya cerita apa yah…. Okay deh, saya akan menceritakan sebuah kisah yang hampir semua pernah mendengarkannya… Jadi, jangan bosen ya… Huehuehue..

Sekitar empat minggu yang lalu ketika masih liburan dan disibukkan dengan PKL, kata “prinsip” sering dijadikan candaan teman-teman saya. Ya, itu bermula ketika saya nyeletuk ke teman saya yang kerjaannya ikut kesana kemari tapi tidak tahu mau ngapain.

“Lu mau ngapain ikut?? Tuh kayak dia jelas ke kampus mau konsultasi laporan. Lha gw mau minjem buku ke kk kelas.”
“Lha lu mau ngapain??” jengkel temen saya melihat si rosyid yang dari tadi pengen ikut-ikutan melulu.
“Tau lu, punya prinsip donks, kesana mau ngapain,. Jangan ikut-ikut doank?” Gw akhirnya nyeletuk juga,

Dan dari kejadian itu sampai sekarang, kata “prinsip” sering dijadikan bahan ledekan buat orang yang plinplan. Kadang-kadang saya juga terkena ledekan teman. Ingat ketika saya ingin mengubah mata-kuliah yang mau saya ambil. Temen saya langsung ngeledek.

“Yeee, prinsip donks. Ngomong doank lu prinsip-prinsip”

Dan dalam satu kejadian itu 10 lebih kata “prinsip” di ulang-ulang yang ditujukan untuk saya,.  -_-”

Oke, beteway busway,. Setelah beberapa hari dari kejadian itu, saya jadi teringat akan sebuah kisah yang sangat bermakna sekali, khususnya buat saya. kisah tentang seorang ayah, anak dan seekor keledai.

langsung aja cekidot ke ceritanya,.

 

AYAH, ANAK DAN KELEDAI

Suatu hari seorang ayah mengajak anaknya pergi ke luar kota untuk berdagang. dia dipercaya bahwa pendidikan terbaik adalah gabungan teori dan praktik sekaligus. Oleh karenanya ia menginginkan agar sejak dini anaknya mengerti apa yang dikerjakan ayahnya sehingga kelak pada saatnya, sang anak bisa meneruskan usaha orangtua. Hal lain yang ingin diraih adalah agar sang anak tahu betapa keras perjuangan sang ayah. Dari sini ia akan mendapatkan dua pelajaran sekaligus. Pertama respek terhadap orangtua. Kedua mengerti mencari nafkah tidak mudah, sehingga ia akan menghargai jerih payah kedua orangtuanya, hidup lebih bertanggung jawab dan tidak berfoya-foya.

Karena sang keledai bertubuh kecil, sang ayah mengalah pada putranya. Ia rela berjalan kaki mentun keledai yang juga dimuati makanan cukup banyak sebagai bekal di perjalanan. Selang beberapa lama, mereka berpapasan sekelompok orang yang lantas berbisik-bisik membicarakan mereka. Seorang diantaranya berkata, “kasihan benar si ayah. Sudah tua masih harus berjalan kaki. Sementara anaknya yang jauh lebih muda benar-benar tidak tahu diri. Seharusnya ia berjalan dan merelakan ayahnya naik keledao. Sungguh malang nasib si ayah mempunyai anak yang tidak berbakti.”

Mendengar celotehan ini sang anak merasa malu. Ia meminta ayahnya naik keledai dan giliran ia yang berjalan kaki. Perjalanan pun terus berlanjut. Tak berapa lama mereka bertemu sekelompok orang yang berbeda. Pandangan mata mereka aneh dan penuh Tanya. Ketika hamper berpapasan, mereka masih sempat mendengar ucapan seseorang yang mengatakan, “benar-benar orang tua yang jahat, anak sekecil itu disuruh berjalan kaku diterik matahari, sementara ia enak-enak menunggang keledai tanpa merasa bersalah sedikitpun!”

Mendengar ucapan tersebut, anak dan ayah saling berpandangan mata. Mereka bingung sejenak mendengan dua pandangan yang kontras berbeda. Lantas sang ayahpun dengan sigap menarik anaknya ke punggung keledai bersama-sama. Kini kedua ayah dan anak itu naik keledai berboncengan dan meneruskan perjalanan menuju kota.

Tak lama kemudian mereka berjumpa sekelompok ketiga. Dari jauh mereka sudah dengar umpatan-umpatan, “sungguh manusia yang jahat dan tidak punya rasa kasihan, keledai sekecil dan sekurus itu harus menunggangi dua orang yang berbadan cukup besar. Benar-benar manusia yang tidak punya perasaan kasihan sedikitpun.”

Mendengar hal itu, ayah dan anak itu kembali menjadi bingung. Serba salah. Begini salah, begitu keliru. Akhirnya sambil menghela nafas panjang, kedua turun dari punggung keledai dan berjalan beriringan di samping keledai. Meski harus berjalan di terik matahari yang ganas, merekamemaksa diri untuk berjalan tanpa henti.

Kala pikiran mereka sedang menerawang sambil berjalan, tiba-tiba kedua dikagetkan olehtawa cekikikan sekelompok orang yang melewati mereka, “bapak dan anak ini sungguh gila. Punya keledai tidak dinaiki, malah dituntun. Kenapa keledainya tidak digendong saja sekalian? Benar-benar ada orang yang sedemikian bodohnya di dunia ini. Sungguh mereka jauh lebih bodoh dari se keledai.”

Kali ini sang ayah tidak lagi bingung. Dengan tangannya yang kuat anaknya dinaikkan ke punggung keledai. Sebelum sang anak protes, ayahnya berkata, “hidup haruslah punya pendirian. Telinga memang berfungsi untuk mendengar. Tapi otak kita bertugas menyaring semua yang ditangkap oleh panca indra kita, termasuk oleh pendengaran. Sementara hati kita punya tugas untuk menimbang, merasakan mana yuang tepat dan benar, mana yang tidak. Dari awal kita telah melakukan kekeliruan, hanya menggunakan telinga untuk mendengarkan. Kita membiarkan diri kita dipermainkan keadaan yang datang dari luar diri kita. Itu tidak boleh terjadi lagi anakku. Kita harus bersikap, punya pendirian dan berani mempertahankan pendirian kita dengan segala konsekuensinya. Kamu masih kecil, kamulah yang lebih layak menaiki keledai. Saat ini ayahmu masih kuat. Nanti pada saatnya tiba, gentian ayahmu yang harus kamu rawat dan kamu jaga. Itulah kehudupan”.

Meski masih kecil, sang anak rupanya cukup cerdas mendengarkan wejangan sang ayah. Di dalam hatinya kini tertanam tiga hal penting. Pertama rasa hormat dan hutang budi atas kasih saying sang ayah. Kedua ia sadar bahwa dalam hidup orang harus memilih, bersikap, punya prinsip dan pendirian. Ketiga sudut pandang orang per orang amatlah beragam,berbeda-beda dan bahkan acapkali bertentangan. Tiada yang mutlak benar, tiada yang mutlak salah. Mengikuti pendapat akan menyesatkan. Memilih salah satu, belum tentu benar. Tapi itulah resiko. Orang besar, pemimpin, harus berani mengambil resiko.

Iklan

1 Komentar»

  boyhidayat wrote @

bagus nih cerita, ijin di copas ya buat bahan bacaan boleh kan ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: